Ad Code

Responsive Advertisement

Perang Dunia di Balik Pintu by ivana

 

Perang Dunia di Balik Pintu



Rumah adalah tempat perlindungan namun bagi saya, rumah justru menjadi sumber kecemasan. Saya tumbuh dalam keluarga yang di mata publik terlihat sempurna dan harmonis. Namun, di balik pintu tertutup ada konflik tak terucapkan yang terjadi dan berkepanjangan antara kedua orang tua saya.

Puncak dari kepahitan ini adalah ketika saya secara tidak sadar dijadikan mediator dan alat komunikasi di antara kedua orang tua.

Momen pahit yang paling menancap adalah ketika saya lulus kuliah dengan predikat terbaik. Alih-alih mendapatkan ucapan selamat yang tulus, perayaan kelulusan saya justru menjadi ajang bagi orang tua untuk menunjukkan permusuhan mereka melalui sindiran dan bahasa tubuh yang dingin. Saat itu saya sadar, pencapaian saya tidak cukup penting untuk menghentikan konflik mereka sementara.

Meskipun penuh kepahitan pengalaman ini menjadi pendorong bagi saya untuk mencari kedamaian batin.



Post a Comment

0 Comments