Perang Dunia di Balik Pintu
Rumah adalah tempat perlindungan
namun bagi saya, rumah justru menjadi sumber kecemasan. Saya tumbuh dalam
keluarga yang di mata publik terlihat sempurna dan harmonis. Namun, di balik
pintu tertutup ada konflik tak terucapkan yang terjadi dan berkepanjangan
antara kedua orang tua saya.
Puncak dari kepahitan ini adalah
ketika saya secara tidak sadar dijadikan mediator dan alat komunikasi di antara
kedua orang tua.
Momen pahit yang paling menancap
adalah ketika saya lulus kuliah dengan predikat terbaik. Alih-alih mendapatkan
ucapan selamat yang tulus, perayaan kelulusan saya justru menjadi ajang bagi
orang tua untuk menunjukkan permusuhan mereka melalui sindiran dan bahasa tubuh
yang dingin. Saat itu saya sadar, pencapaian saya tidak cukup penting untuk
menghentikan konflik mereka sementara.
Meskipun penuh kepahitan pengalaman
ini menjadi pendorong bagi saya untuk mencari kedamaian batin.


0 Comments